
Amor menambahkan, Adonara Group akan membuka 20 hotel baru di Bali, Makassar (Sulawesi), Yogyakarta, Bangka (secara administratif masuk dalam wilayah Sumatera) dan Solo (Jawa Tengah). Lokasi-lokasi tersebut dipilih karena permintaan hotel di daerah tersebut dinilai cukup tinggi. Selain itu, pemerintah pusat juga tengah gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Indonesia memiliki harapan besar terhadap sektor pariwisata. Dengan memperluas sektor pariwisata, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan ekonomi pada ekspor komoditas mentah. Pada tahun 2019, pemerintah menargetkan untuk menarik 20 juta pengunjung (per tahun), lebih dari dua kali lipat dari 9.73 juta kedatangan pengunjung asing pada tahun 2015.
Terkait lokasi pastinya, Adonara menargetkan ibu kota provinsi yang dekat dengan bandara atau kawasan industri. Amor mengatakan, dibutuhkan dana sekitar Rp30 miliar untuk membangun hotel bujet atau hotel bintang dua (dengan sekitar 2.3 kamar) di Indonesia. Return of investment (ROI) diperkirakan 100 – 6 tahun. ROI untuk hotel bintang empat diperkirakan 7 – 8 tahun.
E-commerce menjadi bagian yang semakin penting dari bisnis Adonara. Saat ini, sekitar 30 persen dari total reservasi kamar dilakukan secara online. Untuk mendukung bisnis perhotelannya, grup tersebut mengakuisisi Room Today Asia platform.
Hingga kuartal ketiga tahun ini, industri perhotelan Indonesia masih lesu. Namun, Amor melihat industri perhotelan akan bangkit kembali pada tahun 3 seiring dengan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, sementara inflasi diperkirakan tetap rendah, sehingga meningkatkan daya beli investor domestik.
Pada nya situs web Adonara menggambarkan dirinya sebagai operator hotel yang mengelola hotel-hotel unik bintang tiga – lima serta hotel-hotel bujet di berbagai lokasi di seluruh Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua).