
Asosiasi Pemerintah Daerah Seluruh Indonesia (Apkasi) akan menyiapkan sistem aplikasi daring untuk memudahkan investor yang ingin berinvestasi di daerah, kata Ketua Asosiasi Pemerintah Daerah Seluruh Indonesia (Apkasi) Mardani H Maming di Jakarta, Sabtu.
"Sistem aplikasi daring ini akan membantu para investor yang ingin mengetahui potensi suatu daerah," katanya seraya menambahkan sistem tersebut rencananya akan diluncurkan pada 2017.
Mardani yang juga Bupati Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, menyatakan berharap dengan sistem baru ini, para importir bisa membeli komoditas langsung dari produsen.
Sistem yang sama juga dapat digunakan sebagai mekanisme penyaluran subsidi kepada daerah yang membutuhkan, jelasnya.
Ia mencontohkan, daerah yang tidak menghasilkan beras bisa mendatangkan beras dari daerah lain agar stok berasnya tetap mencukupi.
Apkasi menyelenggarakan Investment and Trade International Summit 2016 di JIExpo Kemayoran di Jakarta Pusat dari 5-7 Mei dalam upaya menarik investasi.
Mardani menginformasikan, sejumlah transaksi terkait investasi dan perdagangan dilakukan dalam acara tersebut, antara lain di sektor perkebunan, peternakan, infrastruktur, dan pariwisata.
“Nota kesepahaman juga telah ditandatangani dengan pihak asing, termasuk dari Jepang dan Tiongkok, "Katanya.
Dalam pidato penutupan acara pada hari Sabtu, Presiden Joko Widodo meminta pemerintah daerah di tanah air untuk mengembangkan potensi daerahnya masing-masing.
Ia meminta mereka untuk fokus pada area tertentu demi efisiensi dan juga memudahkan kontrol.
Ia mencontohkan suatu daerah yang hanya menyediakan fasilitas golf dan tumbuh sebagai hasilnya.
"Bukan tidak mungkin daerah di sini hanya mengembangkan gula atau ikan. Kalau begitu, daerah ini akan dikenal sebagai daerah gula atau ikan," katanya.
Ia juga meminta pemerintah daerah untuk mempercepat proses perizinan.
"Kalau BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) saja bisa merampungkan delapan perizinan dalam waktu satu jam, pemerintah daerah juga harus bisa," ujarnya.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan kemudahan berbisnis di negara ini, katanya.
“Beberapa tahun lalu, kita berada di peringkat 120 dalam indeks kemudahan berbisnis. Tahun lalu, kita berada di peringkat 109 dari 189 negara, jauh di bawah Singapura, atau Malaysia di posisi ke-18 dan Thailand di posisi ke-49,” jelasnya.
Ia mengatakan telah memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian untuk memastikan Indonesia mencapai peringkat ke-40 pada tahun ini, katanya.
“Terobosan harus dilakukan untuk mencapainya. Ini tugas kita bersama. Bukan tidak mungkin untuk mencapainya, tetapi kita perlu bekerja keras. Kita tidak boleh berada di peringkat di bawah 100 selamanya,” desaknya.
Presiden kembali mengingatkan bahwa Indonesia kini telah memasuki era persaingan. “Kalau kita tidak mampu mengubah diri, kita akan tergilas. Kita harus memenangkan persaingan jika ingin menjadi bangsa pemenang,” katanya.