
Perdagangan Menteri Don Farrell telah mengumumkan bahwa Australia dan Uni Eropa (UE) akan segera melanjutkan negosiasi perjanjian perdagangan bebas. Hal ini terjadi dua tahun setelah Australia menarik diri dari perundingan karena proposal akses pasar yang tidak memuaskan untuk sektor daging sapi, domba, susu, dan gula.
Pasar global telah berubah secara tak terduga karena kenaikan tarif yang tak terduga yang diberlakukan oleh Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump. Hasilnya, prospek negosiasi yang membuahkan hasil antara Australia dan UE, khususnya yang difokuskan pada peningkatan akses untuk produk pertanian tertentu dan pengurangan hambatan birokrasi, telah meningkat pesat.
Salah satu tujuan utama Australia adalah meningkatkan ekspor daging sapi dan domba ke Eropa. Namun, hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, mengingat pengaruh politik yang signifikan yang dimiliki oleh para petani Eropa. Tawaran yang diajukan Uni Eropa pada tahun 2023 hanya mencakup 0.3% dari impor pertaniannya dan lebih rendah dibandingkan dengan yang diajukannya kepada mitra dagang lainnya.
Kendala signifikan lainnya adalah desakan Uni Eropa agar Australia melepaskan hak penamaan untuk ratusan produk makanan dan minuman. Uni Eropa mendesak Australia untuk mengadopsi sistem pengendalian penamaan makanan dan minuman beralkohol khusus untuk suatu wilayah, yang jika disepakati, dapat berdampak buruk bagi konsumen, perusahaan susu, dan produsen minuman beralkohol butik di Australia.
Uni Eropa menganjurkan Australia untuk menerapkan model "indikasi geografis" guna melindungi nama-nama barang Eropa. Model ini mencakup daftar 170 nama makanan dan 236 nama minuman beralkohol yang ingin diberikan Uni Eropa kepada Australia.
Usulan Uni Eropa adalah bahwa hanya keju feta Yunani yang boleh dijual di Australia; saat ini, keju feta Australia, Yunani, Denmark, dan Bulgaria dijual secara nasional. Uni Eropa juga berupaya agar nama prosecco dan parmesan hanya boleh digunakan oleh produsen Eropa.
Pendekatan Australia terhadap pelabelan makanan terutama didorong oleh undang-undang perlindungan konsumen dan riwayat penipuannya sangat minim. Sebaliknya, Eropa awalnya menerapkan sistem ini untuk anggur karena maraknya penipuan, sebelum akhirnya memperluasnya ke produk makanan.
Masalah muncul dengan nama-nama makanan dan minuman beralkohol tertentu yang ingin dicadangkan Uni Eropa untuk para produsennya. Australia berpendapat bahwa nama-nama tersebut adalah nama umum untuk makanan dan Australia tidak boleh kehilangan akses terhadapnya. Perjanjian dagang negara tersebut memungkinkan proses keberatan dalam situasi di mana hak kekayaan intelektual membatasi apa yang dapat dilakukan oleh produsen lain. Namun, pemerintah sejauh ini gagal menawarkan proses penyelesaian atau umpan balik bagi mereka yang terdampak oleh tuntutan penamaan Uni Eropa, sehingga menghambat proses hukum yang semestinya.
Dampak apa yang mungkin ditimbulkan tuntutan penamaan Uni Eropa terhadap produsen dan konsumen Australia?
Hal ini dapat berdampak negatif terhadap perusahaan susu dan produsen minuman beralkohol butik Australia, serta konsumen yang terbiasa dengan produk dengan nama tertentu.
Mengapa Australia menolak tuntutan penamaan Uni Eropa?
Australia berpendapat bahwa ini adalah nama umum untuk bahan makanan dan mereka tidak boleh kehilangan akses terhadapnya. Negara tersebut juga berpendapat bahwa pendekatannya terhadap pelabelan makanan, yang didorong oleh undang-undang perlindungan konsumen, sudah memadai.
Konsesi apa yang berpotensi diberikan Australia untuk mencapai kesepakatan?
Australia dapat mengikuti preseden yang ditetapkan oleh Kanada dengan menerima feta sebagai indikasi geografis sekaligus mengizinkan produsen Australia yang ada untuk terus memproduksi dan menjual feta. Pengamanan serupa dapat diupayakan untuk produk lainnya.