
Di tengah dampak krisis Credit Suisse, Asosiasi Bankir Swiss (SBA) menyuarakan penolakannya terhadap rencana agresif Dewan Federal untuk merombak persyaratan modal bagi anak perusahaan asing. SBA berpendapat bahwa permasalahan yang dihadapi bukanlah persyaratan modal yang rendah itu sendiri, melainkan pengecualian ekstensif yang diberikan oleh regulator keuangan Finma kepada berbagai lembaga.
"Pelajarannya jelas: kita harus menghapus pengecualian ini ke depannya," demikian pernyataan SBA dalam pengumuman terbarunya. "Namun, Dewan Federal bermaksud untuk meningkatkan persyaratan modal secara substansial bagi anak perusahaan asing—sebuah langkah yang belum memiliki preseden internasional dan berbeda dari praktik di pusat keuangan lain seperti AS dan Eropa."
SBA memperingatkan bahwa perubahan yang diusulkan Dewan Federal dapat mengurangi daya tarik menjalankan bisnis internasional dari Swiss—kekhawatiran yang signifikan mengingat sekitar setengah dari 9.3 triliun franc aset yang dikelola di negara tersebut berasal dari klien asing. Asosiasi tersebut berpendapat bahwa adalah naif untuk berpikir bahwa beban peningkatan biaya dapat dibebankan begitu saja kepada klien internasional. Pada akhirnya, para pengusaha, pelanggan, dan klien lokallah yang akan menanggung akibatnya melalui pinjaman yang lebih mahal dan layanan yang berkurang, yang memicu penurunan daya saing Swiss.
Menanggapi usulan-usulan ini, SBA menganjurkan pendekatan yang seimbang dan terkoordinasi secara internasional terhadap perubahan regulasi. Mereka menekankan bahwa penilaian dampak ekonomi yang menyeluruh sangat penting sebelum menerapkan langkah-langkah drastis apa pun. Asosiasi tersebut mencatat bahwa meskipun Dewan Federal mengakui keringanan regulasi sebagai tujuan ekonomi yang krusial, visi ini juga harus mencakup perbankan peraturan. Pesannya jelas: keuangan dan industri saling terkait, dan SBA menjanjikan komitmennya untuk berkontribusi secara konstruktif terhadap diskusi yang sedang berlangsung ini.
UBS telah mempertimbangkan hal ini, menyatakan bahwa meskipun mereka sedang meninjau dokumen terbaru pemerintah, mereka secara umum mendukung sebagian besar proposal yang diajukan oleh Dewan Federal pada 6 Juni 2025, asalkan perubahan ini dilaksanakan dengan cara yang "terarah, proporsional, dan selaras dengan standar internasional".
Namun, UBS menggarisbawahi usulan kenaikan persyaratan modal tersebut, menyebutnya "ekstrem" dan tidak selaras dengan standar global. Bank tersebut berpendapat bahwa pelajaran dari kebangkrutan Credit Suisse belum diprioritaskan secara memadai. UBS menjelaskan bahwa kepatuhan terhadap persyaratan baru tersebut berarti menambah modal CET1 sebesar USD 24 miliar ke USD 18 miliar yang telah diamanatkan, sehingga totalnya menjadi USD 42 miliar. Skenario ini akan mendorong rasio CET1 UBS menjadi sekitar 19 persen, melonjak di atas rata-rata yang dipersyaratkan untuk bank sistemik global—setidaknya 50 persen.
Apa saja kekhawatiran utama Asosiasi Bankir Swiss mengenai usulan Dewan Federal?
SBA khususnya khawatir bahwa peningkatan persyaratan modal untuk anak perusahaan asing akan membuat bisnis internasional kurang menarik, yang pada akhirnya dapat menyebabkan biaya yang lebih tinggi bagi wirausahawan dan klien di Swiss.
Bagaimana UBS memandang usulan penambahan modal menyusul krisis Credit Suisse?
UBS dengan tegas menolak usulan kenaikan suku bunga, menyebutnya ekstrem dan tidak sesuai dengan standar internasional. Mereka berpendapat bahwa kenaikan tersebut akan memaksa UBS untuk menahan modal dalam jumlah yang tidak berkelanjutan, jauh di atas rata-rata bank global.
Apa saran SBA untuk perubahan regulasi di masa mendatang?
SBA menyerukan penilaian dampak ekonomi yang komprehensif sebelum menerapkan perubahan kebijakan yang drastis dan menekankan perlunya koordinasi internasional untuk memastikan bahwa keringanan regulasi benar-benar tercapai di bidang perbankan.