
Laporan baru oleh Juniper Research memperkirakan jumlah pembayaran seluler yang diautentikasi dengan biometrik akan meningkat hingga hampir 2 miliar tahun ini, naik dari lebih dari 600 juta pada tahun 2016.
Penelitian baru menemukan bahwa meskipun Apple Pay telah memberikan katalis untuk pertumbuhan awal, dompet terkemuka lainnya termasuk Android Pay dan Samsung Pay semakin banyak menawarkan solusi biometrik untuk autentikasi.
Lebih jauh lagi, peluang ini semakin besar karena ketersediaan sensor sidik jari yang semakin luas. Juniper memperkirakan sekitar 60% model ponsel pintar akan dilengkapi sensor tersebut tahun ini, dan banyak vendor Tiongkok yang menyertakannya ke dalam model kelas menengah.
Penelitian ini menekankan momentum yang semakin meningkat di balik solusi biometrik alternatif. Penelitian ini mengakui Mastercard sebagai pemimpin awal dalam bidang ini melalui kemampuan Identity Check Mobile-nya, yang akan diluncurkan pada akhir tahun 2017. Secara informal dikenal sebagai "selfie pay", fitur ini memungkinkan pengguna untuk memindai sidik jari dan/atau mengambil swafoto untuk memvalidasi identitas mereka dan dengan demikian melakukan pembayaran.
Sementara itu, diharapkan akan ada adopsi kuat dari aplikasi autentikasi yang baru-baru ini diluncurkan oleh otoritas identifikasi India, yang memungkinkan pedagang untuk memverifikasi ID pelanggan melalui sidik jari atau pemindaian iris. Memang, karena data biometrik terhubung ke bank akun, proses tersebut bertindak sebagai autentikasi dan pemungkin transaksi.
Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bagi penyedia layanan adalah mencapai keseimbangan yang tepat antara kenyamanan pengguna akhir dan keamanan solusi.
Penulis penelitian Dr Windsor Holden mengemukakan bahwa "umumnya, semakin aman solusinya, semakin lama pula proses autentikasinya. Sangat penting untuk menawarkan berbagai opsi verifikasi yang memungkinkan klien menentukan tingkat keamanan apa yang diperlukan untuk autentikasi tertentu."