
Dalam upaya untuk mengurangi dampak kenaikan biaya bahan bakar global akibat konflik di Timur Tengah, Kamboja telah memilih untuk mengurangi mengimpor bea masuk untuk kendaraan listrik (EV), kompor listrik, dan peralatan bertenaga surya.
Pada tanggal 29 Maret, Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Pajak mengumumkan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk memangkas bea impor dari awalnya 35% menjadi nol untuk kendaraan listrik penumpang, kompor listrik, dan pemanggang roti.
Pemerintah selanjutnya memutuskan untuk menurunkan bea impor dari 35% menjadi hanya 7% untuk kendaraan listrik hibrida plug-in (PHEV) penumpang.
Selain itu, bea impor untuk pengisi daya EV Penggunaan baterai, penanak nasi listrik, dan lampu tenaga surya telah berkurang dari 7% menjadi nol.
Tarif baru tersebut akan mulai berlaku pada tanggal 1 April.
Langkah-langkah ini merupakan respons terhadap percepatan dramatis harga bahan bakar sejak awal konflik Timur Tengah. Pemerintah berharap bahwa dengan mengurangi bea impor barang-barang ini, akan mendorong lebih banyak orang untuk beralih menggunakan produk yang hemat energi dan ramah lingkungan, sehingga mengurangi ketergantungan negara pada bahan bakar impor.
Mengapa Kamboja menurunkan bea impor untuk barang-barang tertentu ini?
Pemerintah mendorong penggunaan produk hemat energi dan ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan negara pada bahan bakar impor, yang harganya telah melonjak akibat konflik di Timur Tengah.
Berapakah tarif bea impor baru untuk barang-barang ini?
Bea masuk telah dikurangi dari 35% menjadi nol untuk kendaraan listrik penumpang, kompor listrik, dan pemanggang roti. Untuk kendaraan listrik hibrida plug-in (PHEV) penumpang, tarifnya telah dikurangi menjadi 7% dari 35%. Sementara itu, bea masuk untuk pengisi daya baterai EV, penanak nasi listrik, dan lampu tenaga surya telah dikurangi menjadi nol dari tarif sebelumnya sebesar 7%.
Kapan tarif baru ini akan mulai berlaku?
Tarif baru tersebut akan mulai berlaku pada tanggal 1 April.