
Lonjakan permintaan barang-barang mewah telah menyebabkan pengeluaran yang dipimpin Tiongkok sebagian besar beralih ke pasar internasional termasuk Australia, menurut penelitian terbaru dari kelompok properti CBRE.
Menurut laporan terbaru, Luxury Retail Tahun 2015, 70 persen dari seluruh pembelian barang mewah yang dipimpin China kini ditransaksikan di luar negeri, menghasilkan peningkatan penjualan di seluruh dunia, termasuk pasar Australia.
"Pembeli Tiongkok menyumbang 30 persen dari belanja barang mewah di seluruh dunia dan 70 persen dari pembelian ini dilakukan di luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan ekonomi telah mendorong konsumen Asia untuk memikirkan kembali kebiasaan belanja mereka," kata Kepala Riset dan Konsultasi CBRE EMEA, Andrew Phipps.
“Munculnya 'undang-undang anti-kemewahan' baru di Tiongkok dan makin sadarnya konsumen akan perbedaan harga hingga 70 persen telah menyebabkan banyak konsumen lebih memilih berbelanja di luar negeri, yang harganya jauh lebih menarik,” kata Phipps.
Kepala pialang ritel dan penyewaan CBRE, Australia, Leif Olson mengatakan merek-merek internasional ingin memanfaatkan peningkatan permintaan barang-barang mewah dengan mengamankan kehadiran di pusat-pusat mode terbesar di Australia.
“Pada tahun 2015, lanskap ritel Australia telah berubah secara signifikan, dengan banyaknya merek global yang mengantre untuk membuka toko di seluruh negeri,” kata Olson. “Momentum ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat, dengan merek-merek mewah yang terjangkau akan memimpin di Australia selama tahun depan, sementara merek-merek papan atas akan berupaya mengamankan aset-aset unggulan di lokasi-lokasi inti.”
Olson mengatakan gelombang pertumbuhan berikutnya di pasar ritel mewah Australia akan berpusat pada perluasan pengecer di Brisbane, Perth dan Adelaide; penambahan makanan dan minuman ke ritel mewah; dan pertumbuhan pakaian anak-anak premium.
“Penambahan makanan dan minuman ke toko ritel mewah merupakan pasar yang belum tersentuh di Australia, dan konsep yang tersebar luas ini sudah terlihat di pusat mode terbesar di dunia, termasuk Hong Kong dan Makau,” kata Olson.
“Tidak semua orang mampu membeli tas tangan atau dompet bermerek mewah, tetapi dengan bisa menikmati kopi atau makanan di Armani, misalnya, daya tarik merek tersebut akan semakin luas dan lebih mudah dijangkau oleh semua orang.“
Pakaian anak-anak mewah menunjukkan peluang pertumbuhan lain di Australia, kata Olson.
“Mengalihkan daya tarik merek dari orang dewasa ke keluarga akan menjadi fokus utama para peritel yang berekspansi di Australia. Hal ini akan membantu mereka untuk melibatkan dan memperkuat hubungan dengan klien utama mereka – para orang tua – sekaligus membangun basis konsumen masa depan mereka dari generasi berikutnya.”