
Harga minyak kelapa melonjak di Asia, dipelopori oleh India—konsumen terbesar produk ini—yang telah mengalami kenaikan harga tiga kali lipat dalam dua tahun. Hal ini disebabkan oleh kombinasi kekurangan pasokan dan melonjaknya permintaan akan air kelapa yang kaya nutrisi, sehingga menjadikan bahan dapur umum ini sebagai komoditas mewah.
Melonjaknya harga minyak kelapa telah membuat banyak konsumen yang sadar anggaran sulit menjangkau minyak kelapa. Oleh karena itu, mereka yang dulu menyukai cita rasanya yang unik, yang telah mengakar kuat dalam masakan daerah, kini mulai mencari alternatif. Misalnya, Leelamma Cherian, seorang warga Kerala di India selatan, telah menyatakan niatnya untuk beralih ke minyak bunga matahari olahan yang lebih terjangkau untuk memasak sehari-hari, dan menyimpan minyak kelapa untuk hidangan yang cita rasanya sangat penting.
Kenaikan harga, yang dimulai pada paruh kedua tahun 2024, semakin didorong oleh gangguan produksi di banyak negara produsen utama, dari India hingga Asia Tenggara. Gangguan ini disebabkan oleh musim yang ditandai dengan berkurangnya curah hujan, panas yang berkepanjangan, dan meningkatnya kerusakan akibat hama dan penyakit. Harga di India hampir tiga kali lipat dalam waktu kurang dari dua tahun, mencapai rekor tertinggi 423,000 rupee (US$4840) per metrik ton, sementara harga global telah melonjak ke level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu $2990 per ton selama periode yang sama.
Komunitas Kelapa Internasional (ICC), sebuah konsorsium negara-negara produsen, memperkirakan bahwa meningkatnya permintaan di tengah pembatasan produksi akan mempertahankan harga global semester kedua dalam kisaran US $2500 hingga $2700, jauh melampaui angka tahun 2023 sekitar $1000.
Lonjakan harga ini juga berdampak pada kelapa hijau yang dipanen untuk diambil airnya yang kaya elektrolit, serta produk-produk lain seperti kopra, susu, dan bubuk kelapa. Hal ini memberikan tekanan pada produsen sampo dan produk perawatan kulit, yang menghargai minyak kelapa karena kandungan asam lauratnya yang tinggi.
Di seluruh dunia, produksi minyak kelapa menurun seiring bertambahnya usia pohon, upaya penanaman kembali yang kurang optimal, dan perkebunan menghadapi kelangkaan varietas benih unggul. Kondisi cuaca yang berubah dari musim panas dan kering menjadi hujan deras yang tiba-tiba juga mengganggu produksi kelapa. Selain itu, pengabaian perkebunan dan cuaca yang tidak mendukung dalam beberapa tahun terakhir kemungkinan akan menghambat pemulihan produksi yang lebih luas, terutama ketika pasokan minyak laurat serupa lainnya terbatas.
Meskipun minyak kelapa merupakan favorit di kalangan konsumen Asia, produk kelapa lainnya seperti kopra, krim kelapa, dan susu kelapa, sangat diminati di Inggris, Tiongkok, Eropa, Malaysia, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab. Untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh permintaan yang terus meningkat ini, petani Indonesia semakin banyak mengekspor kelapa utuh alih-alih mengolahnya untuk dijadikan minyak.
Apa dampak lonjakan harga minyak kelapa?
Lonjakan harga telah memengaruhi berbagai produk terkait, termasuk kelapa hijau yang dipanen untuk air, kopra, susu, dan bubuk. Hal ini juga memberikan tekanan pada produsen produk perawatan rambut dan kulit, yang menghargai minyak kelapa karena kandungan asam lauratnya yang tinggi.
Mengapa minyak kelapa populer di pasaran?
Minyak kelapa populer karena rasanya yang unik, melekat erat pada masakan daerah, dan kandungan asam lauratnya yang tinggi, yang sangat dihargai oleh industri perawatan rambut dan kulit.
Tindakan apa yang diambil untuk menstabilkan harga minyak kelapa?
Untuk menstabilkan harga, Asosiasi di india telah mendesak penangguhan ekspor kelapa selama enam hingga 12 bulan. Di India, Asosiasi Ekstraktor Pelarut telah mengajukan permohonan kepada New Delhi untuk mengizinkan impor minyak kelapa dan kopra.