
Sygnum, sebuah bank aset digital yang teregulasi, didirikan dengan visi ganda antara Singapura dan Swiss. Gerald Goh, salah satu pendiri dan CEO Sygnum Asia-Pasifik, telah menjadi pemain kunci dalam membangun struktur transkontinental ini sejak tahun 2017. Bahkan dengan kondisi pasar kripto yang berfluktuasi, Goh melaporkan permintaan yang kuat. Menurut survei terbaru Sygnum, aset digital semakin populer di kalangan individu dengan kekayaan bersih tinggi (HNWI) di Asia.
Konsep Sygnum bermula di Singapura pada tahun 2017 selama Singapore Fintech Festival. Goh, bersama tiga pendiri lainnya, Luka Müller, Manuel Krieger, dan Mathias Imbach, disatukan oleh visi bersama: untuk menyediakan platform tepercaya untuk akses global ke aset digital.
Para pendiri membayangkan Sygnum sebagai jembatan antara Singapura dan Swiss, dua pusat keuangan paling inovatif dan berpikiran maju di dunia. Tujuan mereka adalah memanfaatkan keterbukaan lingkungan regulasi ini untuk mengintegrasikan aset digital ke dalam sektor jasa keuangan. Namun, mereka tidak yakin yurisdiksi mana yang akan mempelopori regulasi aset digital.
Akibatnya, para pendiri memutuskan untuk secara bersamaan mendirikan Sygnum di Singapura dan Swiss. Keputusan ini terbukti bijaksana, karena memungkinkan mereka untuk terlibat dengan kedua lingkungan regulasi sejak awal. Sejak awal berdirinya, Sygnum telah memiliki kehadiran yang kuat di kawasan Asia-Pasifik.
Goh menjelaskan bahwa struktur ganda tersebut didorong oleh pengakuan Singapura dan Swiss sebagai pusat keuangan tepercaya di wilayah masing-masing. Basis Swiss dimaksudkan untuk melayani Eropa, sementara basis Singapura akan melayani kawasan Asia-Pasifik. Para pendiri melihat ini sebagai kombinasi strategis dari yang terbaik dari kedua dunia, mengingat bahwa Otoritas Pengawasan Pasar Keuangan Swiss (FINMA) dan Otoritas Moneter Singapura (MAS) termasuk di antara regulator pertama yang menyadari potensi teknologi blockchain.
Meskipun Sygnum Asia tampaknya lebih berfokus pada konsumen (B2C), mitranya di Swiss lebih berorientasi pada melayani bisnis (B2B). Di Singapura, Sygnum menggunakan saluran B2C dan B2B, tetapi Goh mengakui kecenderungan saat ini ke arah B2C. Perusahaan ini memiliki lebih banyak klien langsung daripada perbankan Sygnum bermitra dengan berbagai perusahaan di Singapura, sedangkan di Swiss, Sygnum berkolaborasi dengan lebih dari 20 bank Swiss dan merupakan penyedia layanan B2B terkemuka.
Goh meyakini bahwa lambatnya adopsi kripto oleh lembaga-lembaga di Singapura disebabkan oleh pendekatan hati-hati dari perantara yang teregulasi di kawasan tersebut. Meskipun telah bertahun-tahun menjalin kerja sama dengan bank-bank lokal dan manajer aset eksternal, momentum untuk meluncurkan layanan aset digital yang teregulasi agak tertahan dibandingkan dengan kawasan lain.
Bagaimana konsep Sygnum muncul?
Gagasan untuk Sygnum muncul selama Singapore Fintech Festival 2017. Para pendiri membayangkan sebuah platform yang akan menawarkan akses global ke aset digital dengan cara yang terpercaya.
Apa alasan di balik pendirian Sygnum di Singapura dan Swiss?
Keputusan untuk mendirikan perusahaan di kedua yurisdiksi tersebut didorong oleh pengakuan Singapura dan Swiss sebagai pusat keuangan terkemuka dan inovatif. Struktur ganda ini memungkinkan Sygnum untuk terlibat secara proaktif dengan lingkungan regulasi di kedua wilayah tersebut.
Mengapa adopsi kripto oleh institusi lebih lambat di Singapura?
Tingkat adopsi yang lebih lambat disebabkan oleh pendekatan hati-hati dari lembaga perantara yang teregulasi di Singapura. Terlepas dari keterlibatan berkelanjutan dengan bank lokal dan manajer aset eksternal, laju peluncuran layanan aset digital yang teregulasi lebih terukur dibandingkan di wilayah lain.