
PM Narendra Modi mungkin telah menjadi pembawa bendera 'Make in India', dengan perjalanannya baru-baru ini ke AS menjadi sorotan bagi 'Digital India'. Namun, perusahaan rintisan India lainnya telah bergabung dengan daftar perusahaan baru yang pindah dari IndiaGrofers yang berkantor pusat di Gurgaon memutuskan untuk memindahkan kantor pusat dari India ke Singapura.
Sebagai perusahaan pengiriman bahan makanan lokal, kepindahan Grofers terutama disebabkan oleh rezim perusahaan yang lebih bersahabat di negara asing.
Pergeseran ini kembali menyoroti semacam `brain drain' yang berkaitan dengan perusahaan-perusahaan India. Sebelumnya, perusahaan-perusahaan seperti Mobikon dan AdNear juga telah pindah dari India. Bahkan, tokoh e-commerce India Flipkart juga memindahkan basisnya ke Singapura, sementara beberapa perusahaan lain seperti Fresh Desk dan Druva memilih Amerika Serikat.
Salah seorang pendiri Grofers, Albinder Dhindsa, mengatakan, “Alasan utama kami membentuk perusahaan induk di Singapura adalah karena potensi pencatatan di masa mendatang. Aset kami masih tercatat di pembukuan entitas India, jadi persamaan pajak tetap sama bagi kami.”
Para pakar industri menunjukkan, tarif pajak korporasi yang tinggi di India dan berbagai masalah kepatuhan merupakan alasan utama bagi banyak perusahaan untuk ikut dalam eksodus.
Faktanya, investor juga lebih yakin menanamkan uang ke perusahaan rintisan ketika kantor pusat perusahaan beroperasi di negara asing yang ramah teknologi. Tarif pajak perusahaan adalah 30% di India, sedangkan di Singapura tarifnya adalah 17%. “India sekarang menjadi tempat yang menarik bagi perusahaan rintisan. Namun, India belum bisa mengejar ketertinggalan dalam hal regulasi dan struktur pajak. Di pasar yang ramah teknologi, yang cukup matang untuk menampung mereka, mendapatkan pendanaan yang relatif lebih tinggi dan valuasi yang lebih tinggi menjadi lebih mudah,” kata seorang investor domestik.
Para pemangku kepentingan utama mengemukakan bahwa hal yang membuat perusahaan tahap awal atau perusahaan yang baru muncul di ruang ekonomi baru adalah kenyataan bahwa perusahaan dengan nilai yang cukup rendah harus menjalankan jenis kepatuhan yang sama dengan yang diharapkan dipenuhi oleh konglomerat mapan di India. "Merupakan tugas yang berat bahkan bagi perusahaan menengah untuk menyamai standar kepatuhan perusahaan, misalnya, perusahaan raksasa seperti ITC," kata seorang pengacara perusahaan.
Untuk putaran pendanaan Grofers berikutnya, entitas Singapura mungkin berguna karena pesaingnya seperti BigBasket dan PepperTap baru-baru ini mengumpulkan dana untuk ekspansi dan mengakuisisi konsumen di sektor yang paling diminati di arena e-commerce di India. Yang masih harus dilihat adalah apakah pemerintah dapat menghentikan eksodus yang meningkat dan 'Make In India' menjadi kenyataan.