
Asosiasi perdagangan di Malaysia memperingatkan bahwa harga pangan di negara itu berpotensi melonjak hingga 50% karena meningkatnya energi Krisis ini terkait dengan konflik di Iran. Krisis ini telah menyebabkan kenaikan biaya bahan bakar, yang pada gilirannya menaikkan harga bahan baku. Bahan-bahan ini sangat penting dalam pembuatan makanan pokok sehari-hari seperti nasi lemak, hidangan populer berupa nasi dan daging yang disajikan di atas daun pandan dengan pasta cabai pedas. Harga bahan-bahan ini telah mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga para pedagang tidak punya pilihan selain menaikkan harga kepada konsumen.
Rosli Sulaiman, presiden Federasi Asosiasi Pedagang Kaki Lima dan Pedagang Malaysia, mencatat bahwa bahkan sebelum lonjakan harga bahan bakar, biaya telah meningkat sekitar 20% hingga 30%. Ia memperingatkan bahwa ketika biaya tinggi dan keuntungan tidak ada, pedagang terpaksa menaikkan harga jual mereka, meskipun dengan margin kecil. Dampak dari situasi ini paling dirasakan oleh pedagang kecil, pedagang kaki lima, dan masyarakat umum.
Asosiasi Pemilik Restoran Muslim Malaysia (Presma), yang mewakili tempat makan 24 jam komunitas Muslim India, telah melaporkan peningkatan biaya hingga 30% dalam setahun terakhir. Kenaikan biaya ini memengaruhi bahan baku seperti ayam dan sayuran, serta gas untuk memasak dan kemasan plastik.
Data pemerintah mengungkapkan bahwa pengeluaran warga Malaysia untuk makan di luar rumah melampaui MYR870 (US$216) per bulan pada tahun 2024, menunjukkan peningkatan 17% dari tahun sebelumnya. Tren ini menunjukkan peningkatan kecenderungan untuk makan di luar rumah dibandingkan memasak di rumah dan mencakup lebih dari 12% dari pendapatan rumah tangga bulanan rata-rata sebesar MYR7,017.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa industri makanan dan minuman negara yang bernilai MYR60 miliar dapat kesulitan mempertahankan pertumbuhan jika harga minyak mentah global – yang baru-baru ini mencapai puncaknya di $115 per barel – tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama. Kekurangan pupuk yang berdampak pada pertanian, serta meningkatnya biaya pengiriman dan logistik, juga dapat berkontribusi pada inflasi impor, sehingga memengaruhi sektor ini di luar biaya energi dan transportasi yang lebih tinggi.
Doris Liew, seorang ekonom yang berspesialisasi dalam pembangunan Asia Tenggara, memperingatkan bahwa efek sekunder ini kemungkinan akan lebih persisten di ekonomi yang bergantung pada perdagangan seperti Malaysia daripada guncangan energi awal. Meskipun subsidi bahan bakar yang ditargetkan Malaysia berpotensi melindungi rumah tangga dari guncangan harga langsung, subsidi tersebut kemungkinan tidak akan mampu mengimbangi kenaikan biaya input bagi bisnis. Biaya-biaya ini diperkirakan akan mengalir ke konsumen, yang dapat meredam sentimen bisnis dan kepercayaan konsumen, sehingga menyebabkan perusahaan dan rumah tangga mengurangi pengeluaran di tengah ketidakpastian.
Apa dampak krisis energi terhadap Malaysia?
Krisis energi yang terkait dengan konflik di Iran mendorong kenaikan harga pangan di Malaysia, dengan potensi lonjakan hingga 50%. Kenaikan biaya ini memengaruhi bahan baku yang penting untuk kehidupan sehari-hari, dan biaya ini dibebankan kepada konsumen.
Apa dampak yang mungkin ditimbulkan oleh lonjakan harga terhadap perekonomian secara keseluruhan?
Lonjakan harga dapat meredam sentimen bisnis dan kepercayaan konsumen, menyebabkan perusahaan dan rumah tangga mengurangi pengeluaran karena ketidakpastian. Hal ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya inflasi.
Apa saja solusi potensial untuk mengimbangi kenaikan biaya tersebut?
Meskipun subsidi bahan bakar yang ditargetkan di Malaysia dapat melindungi rumah tangga dari guncangan harga langsung, langkah-langkah ini kemungkinan tidak akan mengurangi kenaikan biaya input bagi bisnis. Sangat penting bagi pemerintah untuk meyakinkan warga tentang pasokan bahan bakar dan makanan yang cukup, dan mendukung klaim ini dengan data untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik.