
International Marriott ingin membuka 20 hotel dan resor lagi di Vietnam untuk lebih jauh memanfaatkan potensi besar negara ini pariwisata potensial, kata ketua dan CEO Anthony Capuano.
Potensi tersebut karena letak geografis dan budayanya yang unik, sehingga membuat banyak wisatawan ingin kembali ke negara tersebut, kata Anthony Capuano saat bertemu dengan Perdana Menteri Pham Minh Chinh di Hanoi, Rabu.
Perusahaan perhotelan yang berkantor pusat di AS, yang saat ini mengelola 16 hotel dan resor di bawah delapan merek seperti JW Marriott, Le Meridien dan Sheraton, berencana untuk membuka lebih banyak lagi di Hanoi, Kota Ho Chi Minh, Kota Da Nang, dan Pulau Phu Quoc.
Chinh mengatakan Vietnam menganjurkan pembangunan pariwisata yang cepat dan berkelanjutan, menganggapnya sebagai sektor ekonomi yang penting, dan pemerintahnya menciptakan kondisi yang paling menguntungkan bagi investor.
Ia mengatakan Marriott harus memperluas investasinya dengan proyek-proyek besar yang sesuai dengan kondisi Vietnam dan menarik bagi wisatawan internasional, berkolaborasi untuk pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia berkualitas tinggi, menghubungkan pariwisata Vietnam dengan seluruh dunia, dan mendiversifikasi produk pariwisata dan rantai pasokan.
Capuano berjanji kepadanya bahwa Marriott akan bekerja sama di bidang ini.
Didirikan pada tahun 1927, jaringan hotel terbesar di dunia ini memiliki 8,000 properti dengan hampir 1.5 juta kamar di 139 negara dan wilayah.