
Pada kuartal pertama tahun 2026, ekspor lada Vietnam meningkat sebesar 31.7% menjadi senilai US$430 juta, meskipun menghadapi tantangan terkait pasokan dan logistik global. Volume ekspor meningkat sebesar 39.2% menjadi 66,350 ton, menurut Asosiasi Lada dan Rempah Vietnam.
Bulan Maret menyaksikan lonjakan signifikan dalam ekspor. Pengiriman mencapai total $199.3 juta, setara dengan 30,638 ton lada. Ini menandai peningkatan sebesar 119.3% dari bulan Februari dan kenaikan tahunan sebesar 51.3% dalam nilai.
Lada hitam merupakan mayoritas dari ekspor ini, dengan 26,190 ton senilai $167.3 juta. Lada putih menyumbang porsi yang lebih kecil, dengan 4,448 ton senilai $32 juta. Meskipun harga lada hitam turun sebesar 0.7%, harga ekspor rata-rata tetap tinggi, dengan lada hitam rata-rata seharga $6,520 per ton dan lada putih $8,735 per ton. Di sisi lain, harga lada putih mengalami sedikit kenaikan sebesar 1%.
Amerika Serikat dan China tetap menjadi pembeli lada terbesar Vietnam pada bulan Maret, dengan impor masing-masing sebesar 8,059 ton dan 3,663 ton. Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ekspor ke Amerika Serikat meningkat sebesar 121% sementara ekspor ke China naik sebesar 134.7%. Pasar lain seperti Mesir, Belanda, Kanada, dan Filipina juga menunjukkan pertumbuhan bulanan yang substansial.
Bersamaan dengan peningkatan ekspor, Vietnam juga mencatat lonjakan impor lada karena pelaku bisnis berupaya menambah pasokan domestik untuk pengolahan dan ekspor ulang. Pada bulan Maret, impor mencapai 10,313 ton, naik 66.2% dari bulan Februari dan 108.8% dibandingkan tahun sebelumnya. Total impor untuk kuartal pertama mencapai 21,201 ton, senilai $121 juta, menandai peningkatan 118.9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kamboja merupakan pemasok utama bagi Vietnam, menyumbang 55.1% dari impor, diikuti oleh Brasil dan Indonesia.
Terlepas dari hasil ekspor yang menggembirakan, asosiasi tersebut menyoroti kekhawatiran tentang meningkatnya ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Panen tahun 2026 diperkirakan hanya menghasilkan 170,000–180,000 ton, penurunan sebesar 15–20% dari panen sebelumnya karena kondisi cuaca yang tidak menguntungkan dan perkebunan yang sudah tua. Pasokan yang terbatas ini telah mendorong harga lada domestik sekitar VND140,000–150,000 (US$5.32-5.69) per kilogram.
Petani tidak melakukan penanaman ulang secara ekstensif karena mereka beralih ke tanaman bernilai lebih tinggi dan menghadapi penurunan ketersediaan lahan. Secara global, produksi lada tahun ini diperkirakan sekitar 530,000 ton, sedikit lebih banyak daripada tahun 2025 tetapi masih kurang dari tahun 2024, sementara permintaan tetap kuat.
Eksportir juga menghadapi kesulitan logistik yang semakin meningkat akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang menyebabkan kenaikan biaya pengiriman tiga hingga empat kali lipat. Penutupan Selat Hormuz untuk lalu lintas kontainer komersial telah mengganggu rute pengiriman utama, menyebabkan kemacetan parah di pusat-pusat transshipment utama. Hal ini memaksa beberapa eksportir untuk menunda pesanan baru guna mengurangi risiko yang terkait dengan kenaikan biaya dan keterlambatan pengiriman. Gangguan yang terus-menerus dapat berdampak pada prospek pertumbuhan ekspor sektor ini untuk tahun 2026.
Berapakah nilai ekspor lada Vietnam pada kuartal pertama tahun 2026?
Nilai ekspor lada Vietnam pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai US$430 juta.
Siapa pembeli utama lada di Vietnam pada Maret 2026?
Amerika Serikat dan China adalah pembeli utama lada Vietnam pada Maret 2026.
Apa saja kekhawatiran yang dimiliki Asosiasi Lada dan Rempah Vietnam untuk masa depan?
Asosiasi tersebut prihatin dengan meningkatnya ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, kondisi cuaca yang tidak menguntungkan, perkebunan yang menua, dan meningkatnya kesulitan logistik akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.