
Presiden Joko Widodo dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama proyek pembangunan bendungan Rotiklot di Timor Barat saat kunjungannya ke wilayah tersebut pada 20 dan 28 Desember.
"Kegiatan ini sangat penting karena Bendungan Rotiklot akan menjadi bendungan terbesar ketiga setelah Bendungan Tilong dan Raknamo di Kabupaten Kupang, NTT, serta terbesar di Kabupaten Belu dan Malaka," kata Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Jakarta, Rabu.
"Saat ini tim teknis masih mematangkan agenda Kepala Negara terkait peletakan batu pertama, termasuk lokasi seremoninya," ujarnya.
Pembangunan bendungan senilai Rp450 miliar itu akan rampung dalam tiga tahun dengan menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
“Peletakan batu pertama akan dilakukan tahun ini sebagai tanda dimulainya pembangunan dan akan rampung pada tahun 2017 agar dapat melayani kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Selain untuk pengendalian banjir, bendungan ini juga dirancang untuk memenuhi kebutuhan listrik, pertanian, dan pariwisata, dia telah menyatakan.
“Jika bendungan sudah dibangun, masyarakat harus memanfaatkannya secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mengusulkan pembangunan enam bendungan untuk mengatasi permasalahan kekurangan air di wilayah tersebut dan menghadapi fenomena cuaca El Nino.
“Enam bendungan tersebut antara lain Kolhua di Kota Kupang, Raknamo di Kabupaten Kupang, Rotiklot di Kabupaten Belu, Temef di Timor Tengah Selatan, Napunggete di Sikka, dan Lambo di Nagekeo,” kata Andre Koreh, Kepala Dinas Pekerjaan Umum provinsi, di kesempatan terpisah.
Dia mengatakan proyek-proyek tersebut sudah masuk dalam rencana Kementerian Pekerjaan Umum, dan akan direalisasikan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan anggaran.
Ia mencontohkan, wilayah tersebut membutuhkan sekitar 1.5 juta meter kubik air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada musim kemarau, meski pasokan air melimpah pada musim hujan, untuk itu diperlukan bendungan.