
Pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap industri teh Indonesia dengan mengintensifkan upaya promosi dan memperkuat kolaborasi antar kementerian untuk membalikkan tren penurunan ekspor yang dimulai beberapa tahun lalu, saran seorang pakar kebijakan publik.
“Kementerian Perdagangan misalnya, bisa berkolaborasi dengan Pak "Arief Yahya [Menteri Pariwisata]. Jadi sambil jalan-jalan ke luar negeri, mereka bisa promosikan teh Indonesia," kata dosen kebijakan publik Universitas Indonesia Riant Nugroho, Senin.
Menurunnya ekspor teh yang salah satu penyebabnya adalah terbatasnya lahan perkebunan teh, juga dapat diatasi melalui koordinasi yang lebih baik dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), imbuhnya.
“Bicaralah dengan mereka dan cari cara agar mereka tidak menggunakan seluruh lahan yang tersedia untuk membangun [rencana] kereta api cepat Jakarta-Bandung, misalnya,” katanya, mengacu pada proyek besar yang dirancang untuk menghubungkan Jakarta dengan ibu kota Jawa Barat, daerah penghasil teh terbesar di Indonesia, dengan lebih baik.
Sebagai produsen teh terbesar ketujuh di dunia, ekspor teh Indonesia turun menjadi 62,700 ton tahun lalu dari 92,000 pada tahun 2009, dengan nilai turun menjadi US$128 juta dari $171 juta pada periode yang sama.
Hanya 6 persen dari 62,700 ton yang diekspor tahun lalu terdiri dari teh olahan bernilai tambah.
"Produksi teh dalam negeri masih menghadapi banyak tantangan, seperti terbatasnya lahan perkebunan, peralatan produksi yang sudah ketinggalan zaman, serta harga teh di tingkat petani yang masih rendah," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Dody Edward.
Di antara negara tujuan ekspor teh Indonesia yang terbesar adalah Rusia, Malaysia, Pakistan Australia dan Jerman.