
Pada tahun 2026, Singapura diperkirakan akan menghadapi tahun krusial di mana ketahanan ekonominya akan diuji oleh perubahan skenario geopolitik, fragmentasi perdagangan, dan siklus teknologi yang moderat, menurut laporan terbaru dari DBS, lembaga keuangan terkemuka di negara tersebut. bank.
DBS Group Research memprediksi pertumbuhan PDB sebesar 1.8 persen, yang meskipun mendekati potensi, turun dari perkiraan 4.0 persen pada tahun 2025. Negara-kota ini akan mengelola tantangan ganda berupa tarif dan teknologi, yang sering disebut sebagai "dua T" oleh para analis.
Sektor-sektor yang bergantung pada ekspor diproyeksikan akan mengalami perlambatan akibat dampak berkelanjutan dari peningkatan tarif global dan potensi biaya semikonduktor baru yang dapat diberlakukan oleh AS. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan volume perdagangan barang dunia hanya akan tumbuh sebesar 0.5 persen pada tahun 2026, penurunan tajam dari lebih dari 2 persen dalam dua tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan melemahnya permintaan eksternal.
Kekuatan elektronik Singapura, yang didorong oleh komponen-komponen terkait AI, kini telah mencapai fase matang, setelah periode pertumbuhan 18 bulan. Pertumbuhan penjualan semikonduktor global diperkirakan akan melambat menjadi 9.9 persen pada tahun 2026, dari 15.4 persen pada tahun 2025. Hal ini berpotensi menghambat momentum manufaktur jika ledakan AI mereda atau jika tarif chip AS yang diusulkan mulai berlaku.
Sebaliknya, ekonomi jasa, khususnya keuangan dan sektor asuransi, informasi dan komunikasi, serta jasa profesional, diperkirakan akan menyeimbangkan kinerja secara keseluruhan. Selama dekade terakhir, sektor jasa modern ini telah menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dan lebih konsisten dibandingkan dengan manufaktur. Hal ini difasilitasi oleh digitalisasi, kondisi keuangan yang kondusif, dan arus investasi regional yang kuat.
Proyek-proyek infrastruktur besar, seperti Terminal 5 Bandara Changi, Pelabuhan Tuas, dan Koridor Utara-Selatan, diperkirakan akan mendorong sektor konstruksi domestik. Sektor ini diperkirakan akan menghasilkan permintaan tahunan sebesar S$39-46 miliar dari tahun 2026 hingga 2029, menunjukkan prospek yang secara struktural lebih kuat dibandingkan pemulihan pascapandemi maupun sebelum COVID.
Inflasi umum dan inti diperkirakan masing-masing mencapai 1.2 persen dan 1.0 persen pada tahun 2026. Tingkat inflasi ini lebih tinggi daripada titik terendah pascapandemi pada tahun 2025, tetapi masih berada dalam kisaran target Otoritas Moneter Singapura. Disinflasi impor mulai berkurang, sementara biaya domestik akan sedikit meningkat karena produktivitas tertinggal dari pertumbuhan upah.
Perubahan kebijakan hijau, seperti rencana kenaikan pajak karbon sebesar 1.8 kali lipat dan pungutan bahan bakar berkelanjutan untuk penerbangan, diperkirakan akan mendorong kenaikan harga utilitas dan perjalanan. Penyesuaian pajak karbon diperkirakan dapat meningkatkan tarif listrik sekitar empat persen pada tahun 2026. Namun, inflasi layanan esensial diperkirakan akan terkendali melalui subsidi layanan kesehatan dan pengurangan biaya pendidikan.
Dengan kepemimpinan politik yang diperbarui, Singapura bersiap meluncurkan strategi baru untuk meningkatkan daya saing dan memastikan dinamika jangka panjang. Strategi ini akan mencakup adopsi teknologi, menarik investasi global, dan memperkuat peran di sektor-sektor yang sedang berkembang seperti energi rendah karbon dan arus data.
Status Singapura sebagai pusat tepercaya, ditambah dengan dukungan pemerintah dan keberlanjutan kebijakan, membentuk fondasi dari apa yang disebut DBS sebagai "ketahanan terukur". Hal ini mengacu pada jenis pertumbuhan yang mampu bertahan menghadapi tantangan sekaligus mempersiapkan diri untuk tahap transformasi ekonomi berikutnya.
Apa saja “dua T” yang diharapkan harus dihadapi Singapura pada tahun 2026?
"Dua T" mengacu pada tarif dan teknologi. Kedua tantangan utama ini diperkirakan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Singapura pada tahun 2026.
Bagaimana kinerja perekonomian jasa Singapura diharapkan dibandingkan dengan sektor manufaktur?
Perekonomian jasa, khususnya sektor-sektor seperti keuangan dan asuransi, informasi dan komunikasi, serta jasa profesional, diperkirakan akan menyeimbangkan kinerja secara keseluruhan pada tahun 2026. Sektor-sektor ini telah menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dan lebih stabil dibandingkan manufaktur selama dekade terakhir.
Apa prediksi dampak perubahan kebijakan hijau terhadap perekonomian Singapura pada tahun 2026?
Perubahan kebijakan hijau, termasuk rencana kenaikan pajak karbon dan pungutan bahan bakar berkelanjutan untuk penerbangan, diperkirakan akan mendorong kenaikan harga utilitas dan perjalanan. Namun, inflasi layanan esensial perlu dikendalikan karena adanya subsidi layanan kesehatan dan pengurangan biaya pendidikan.