
Ketika pengusaha Jerman Marc Uthay mengarahkan pandangannya ke Asia Tenggara Asia Pada tahun 2013, ia mengira pasar e-commerce sudah cukup sempit. Ada toko serba ada milik Rocket Internet, Lazada – yang pada dasarnya merupakan tiruan Amazon. Zalora, usaha lain yang didukung Rocket, yang mengkhususkan diri dalam mode. Selain itu, sejumlah perusahaan rintisan e-commerce lokal dan asing menawarkan segala hal mulai dari gadget hingga sepatu.
Namun setelah melakukan riset, Uthay menemukan ceruk pasar yang menjanjikan: kacamata. Ia menemukan bahwa meskipun jutaan orang di Asia Tenggara membutuhkan kacamata resep atau lensa kontak, variasi merek dan gaya yang tersedia terbatas dan infrastruktur untuk memesan secara daring belum berkembang dengan baik.
Tujuannya adalah untuk menguasai sebagian besar industri kacamata di Asia Tenggara dengan menjualnya secara daring. Uthay mengajak Christian Csermak untuk membantu memulai perusahaan di Asia Tenggara. Csermak sebelumnya membangun merek kacamata yang dibuat khusus di Jerman, yang disebut Mercy Would – dengan konsep yang mirip dengan Warby Parker di AS.
Tonggak pertama Uthay dan Csermak adalah membangun Lensza, toko serba ada untuk lensa kontak dan produk perawatan mata. Lensza menyediakan berbagai macam lensa dari berbagai produsen, dengan penekanan pada lensa berwarna, yang populer di Asia. Mereka meluncurkan situs tersebut pada awal tahun 2014. Namun, tujuannya bukanlah untuk sekadar membangun toko elektronik.
Setelah Lensza berdiri dan beroperasi, Uthay dan Csermak menyusun konsep untuk merek kacamata mode baru yang mirip Warby Parker untuk pasar Indonesia. Mereka menamakannya Franc Nobel. Koleksi bingkai pertama diluncurkan pada bulan Juni.
Saat ini, bingkai kacamata Franc Nobel masih diimpor, tetapi Uthay berencana untuk membawa seluruh produksinya ke Indonesia dalam waktu dekat. Salah satu tantangannya, kata Uthay, adalah orang-orang ingin mencoba kacamata sebelum memutuskan untuk membeli. Perusahaan rintisan ini tengah menguji berbagai metode untuk mengatasi hal ini.
Akhir tahun lalu, Uthay dan Csermak mengumpulkan dana awal "enam digit" dari Crystal Horse Investments untuk usaha lensa dan kacamata mereka. Untuk saat ini, mereka berfokus pada pasar Indonesia. Ekspansi di seluruh wilayah bisa jadi sulit, karena konsep serupa sudah ada di pasar lain.
Salah satu pesaing langsung di Asia Tenggara adalah Four Eyes, yang dimulai di Filipina pada tahun 2013 dan juga tersedia di Singapura. Yang lainnya adalah Specsdirect di Malaysia.