
Memasuki hari kedua, ajang Trade Expo Indonesia telah menghasilkan total transaksi sebesar US$186.69 juta dalam bentuk kontrak perdagangan.
"Pada hari pertama, transaksi senilai US$178.7 juta telah ditandatangani. Sementara pada hari kedua, transaksi senilai US$7.99 juta telah ditandatangani," kata Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda di Jakarta, Kamis.
Pada hari kedua Expo, penandatanganan kontrak misi pembelian didominasi oleh importir produk makanan dan minuman dari Australia.
Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Suprapto Martosetomo, Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan serta Kerajaan Lesotho, Kerajaan Swaziland, dan Republik Botswana. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh enam importir dari tiga negara, termasuk Nigeria, Australia, dan Afrika Selatan, serta delapan pelaku usaha ekspor lokal.
Di sektor farmasi, Jeijosh Pharma asal Nigeria menandatangani kesepakatan dengan PT Phapros, sementara Sony Trading Pty. Ltd menandatangani kesepakatan dengan PT Mayora Indah.
Di sektor produk makanan dan minuman, PT. Pondan Pangan Makmur dan PT. Sarimunik Mandiri menandatangani kesepakatan dengan Eastern Cross Trading Pty. Ltd dan CV. Intrafood, sementara Hean Corporation dan PT. Dua Kelinci menandatangani kemitraan di sektor yang sama.
Grein Australia Pty Ltd dan PT. Sayap Mas Utama menandatangani kesepakatan untuk produk makanan dan minuman serta barang konsumen.
Terakhir, Wemco Investment & Trading Ltd dan PT. KMI Wire and cable Tbk. menandatangani kontrak untuk produk kawat.
Sebanyak 37 penandatanganan kontrak dagang dilakukan antara 30 importir dari 16 negara dan 34 perusahaan eksportir lokal berdasarkan misi pembelian pada hari kedua Expo.
Minyak atsiri dan santan termasuk produk yang paling banyak dicari dan menghasilkan transaksi terbanyak, bersama dengan kontrak tenaga kerja terampil dari bidang jasa.
Komoditas lain yang juga diminati oleh importir asing antara lain kopi, teh, semen, furnitur, kabel, produk makanan dan minuman, makanan laut, alas anti-lelah, alas lantai, talenan, dan ubin modular.
Arlinda meyakini ajang ini telah memperluas peluang ekspor Indonesia di sejumlah pasar, terutama pasar nontradisional.
"Kami terus berupaya agar perwakilan dagang Indonesia dapat lebih banyak berkontribusi di luar negeri, sekaligus mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas produknya karena peluang ekspor saat ini sangat terbuka lebar," tutur Arlinda.
Kementerian Perdagangan menargetkan transaksi perdagangan barang mencapai US$800 juta hingga akhir Pameran Dagang ini, belum termasuk peluang investasi dan transaksi terkait jasa.
Diharapkan secara keseluruhan, total transaksi yang ditandatangani dapat mencapai US$1 miliar, melampaui angka tahun sebelumnya yang mencapai US$909 juta.