
Belanja, hiburan, dan rekreasi mungkin adalah tiga kata yang identik dengan Hong Kong. Namun, itu bukan lagi satu-satunya alasan orang Indonesia untuk mengunjungi wilayah tersebut karena telah menjadi tujuan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Phillip Beh, ketua Komite Penerimaan Mahasiswa Sarjana Universitas Hong Kong (HKU) mengatakan pada hari Sabtu bahwa universitas tersebut telah melihat peningkatan aplikasi dari mahasiswa Indonesia sejak membuka wawancara penerimaan mahasiswa sarjana pertama di Indonesia pada tahun akademik 2014/15.
Beh mengatakan rata-rata 200 lamaran diterima dari mahasiswa Indonesia setiap tahunnya. Namun, para pelamar menghadapi persaingan ketat karena hanya 400 mahasiswa internasional yang diterima di universitas tersebut setiap tahunnya. Saat ini, ada sekitar 90 mahasiswa Indonesia yang terdaftar di HKU, sebagian besar mengambil jurusan Ilmu Pangan dan Gizi serta Manajemen Risiko.
Pinto 'Pipin' Rasika Tasdyata (tengah-kiri) dan Jelita Amidjaja (tengah-kanan) berbincang dengan mahasiswa Indonesia lainnya yang bertindak sebagai pengamat dalam acara open house HKU, wawancara penerimaan mahasiswa sarjana di Jakarta Selatan, Sabtu. (JP/Masajeng Rahmiasri)
Jelita Amidjaja, alumni SMA BPK Penabur 1 Jakarta saat ini sedang menempuh pendidikan Aktuaria di HKU. Ia memilih Hong Kong karena reputasinya sebagai tempat bertemunya budaya Asia dan Barat, selain kedekatannya dengan daratan utama. Tiongkok yang memungkinkannya mempelajari budaya Tiongkok. “Saat ini, Tiongkok adalah negara yang kuat, jadi Anda pasti ingin mempelajari budayanya,” katanya.
Pinto “Pipin” Rasika Tasdyata mempelajari Administrasi Bisnis (Bisnis Internal dan Manajemen Global) di HKU. Ia mengatakan bahwa yang menarik baginya tentang Hong Kong selain budayanya adalah prospek bisnis di wilayah tersebut. “Kota ini merupakan pusat bisnis yang dikenal banyak orang. Saya yakin Hong Kong dan Tiongkok akan tumbuh,” katanya.
Publikasi pemeringkatan universitas global, QS World University Rankings menempatkan HKU pada posisi ke-27 dalam pemeringkatan dunia tahun 2016, sementara publikasi pendidikan berbasis di Inggris, Times Higher Education menempatkan HKU pada posisi ketiga dalam prospek internasionalnya pada tahun 2016. Selain reputasi akademisnya, mahasiswa Indonesia Pipin dan Jelita juga bercita-cita untuk meraih peluang masa depan melalui koneksi HKU.
“Universitas ini sangat terhubung. Ada banyak peluang yang bisa saya dapatkan dari sana, mulai dari magang, mitra luar negeri, dan masih banyak lagi,” kata Pipin, seraya menambahkan bahwa universitas ini juga mengirimkan email harian kepada mahasiswa yang berisi berita tentang magang dan berbagai peluang.
Orang tua Indonesia yang menyekolahkan anak-anaknya di HKU mempertimbangkan biaya kuliah yang relatif mahal. Taman Djojomitro, seorang orang tua yang mendampingi putranya ke acara open house HKU Sabtu lalu menyoroti perbandingan biaya kuliah dengan Amerika Serikat, “Kuliah di Amerika cukup mahal, apalagi nilai tukarnya sekarang Rp 13,000 terhadap dolar.”
Biaya kuliah tahunan untuk mahasiswa internasional di HKU mulai dari HK$146,000 (US$18,824). Dengan biaya akomodasi dalam kisaran HK$12,000 hingga HK$26,000 ditambah biaya hidup sekitar HK$40,000 per tahun, ini merupakan perbedaan yang signifikan dengan biaya rata-rata yang biasanya dikeluarkan saat belajar di luar negeri. Menurut QS World University Rankings, total biaya rata-rata untuk belajar di universitas negeri di AS saat ini rata-rata $39,890 untuk mahasiswa internasional.