
Dolar AS mengalami lonjakan terhadap dong Vietnam pada Kamis pagi, sementara berfluktuasi di sekitar nilai puncaknya terhadap mata uang internasional utama tahun ini.
Vietcombank, sebuah lembaga perbankan terkemuka, melaporkan kenaikan kecil sebesar 0.01% pada nilai dolar AS, dengan menjualnya pada kurs VND26,314.
Sebaliknya, dolar AS sedikit melemah sebesar 0.18% menjadi VND27,910 di pasar valuta asing tidak resmi, yang juga dikenal sebagai pasar gelap.
Hari Kamis menyaksikan dolar AS, yang menjadi tempat berlindung populer selama periode ketidakstabilan keuangan, berada di dekat posisi terkuatnya sepanjang tahun. Tren ini didorong oleh kenaikan harga minyak, yang diprediksi akan meningkatkan inflasi dan memaksa bank sentral di seluruh dunia untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih tegas.
Pada perdagangan awal Asia, euro mengalami sedikit penurunan sebesar 0.1% terhadap dolar, turun menjadi $1.1549. Hal ini membawa euro mendekati nilai terendahnya sejak November tahun sebelumnya.
Demikian pula, yen Jepang mengalami penurunan sesaat, melampaui angka 159 per dolar. Nilainya terdepresiasi hingga 0.2%, mencapai 159.23. Hal ini menempatkan yen di ambang nilai terendahnya sejak Juli 2024.
Dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga mengalami penurunan, keduanya merosot sebesar 0.1%, dengan dolar Australia bernilai $0.7148 dan dolar Selandia Baru bernilai $0.5907.
Faktor apa saja yang memengaruhi kenaikan nilai dolar AS?
Kenaikan nilai dolar AS dapat dikaitkan dengan kenaikan harga minyak, yang diperkirakan akan memicu inflasi dan menyebabkan bank sentral global mengadopsi kebijakan yang lebih agresif.
Bagaimana kenaikan nilai dolar AS memengaruhi mata uang internasional utama lainnya?
Meningkatnya nilai dolar AS mengakibatkan sedikit penurunan nilai beberapa mata uang internasional seperti dong Vietnam, euro, yen Jepang, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru.
Berapakah kurs jual dolar AS di pasar gelap?
Di pasar gelap, dolar AS mengalami penurunan nominal, dengan kurs tercatat sebesar VND27,910.