
VinShop diharapkan segera menjadi platform koneksi toko yang sukses di Vietnam, dengan strategi bisnis yang mirip dengan Tokopedia di Indonesia.
Pelajaran sukses Tokopedia
Didirikan pada tahun 2009, Tokopedia merupakan salah satu unicorn teknologi Indonesia. Menurut CB Insights (AS), nilai Tokopedia mencapai $7 miliar per Juni 2020, menjadikannya unicorn terbesar ketiga di Asia Tenggara. Asia, di belakang Grab (Singapura) dan Gojek (Indonesia).
Tokopedia dikembangkan sebagai platform belanja tempat bisnis apa pun dapat dengan mudah mengatur dan menjual produknya.
William Tanuwijaya, salah satu pendiri Tokopedia, mengatakan model bisnis perusahaannya mirip dengan Alibaba, yaitu menggabungkan Toko dan ensiklopedia.
Pada tahun 2018, Tokopedia meluncurkan aplikasi Mitra Tokopedia untuk warung – usaha kecil milik keluarga yang biasanya melayani lingkungan sekitar.
Mitra Tokopedia telah mencatat satu juta unduhan di negara kepulauan yang memiliki dua juta warung tersebut.
Mitra Tokopedia semakin populer dan kini hadir di lebih dari 20 kota besar, termasuk Bandung, Yogyakarta, Banda Aceh, Medan, Palembang, dan Pekanbaru. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk menghubungkan pemilik toko kelontong secara langsung dengan pemasok dan kemudahan eceran operasi.
Riset dari PT Visa Worldwide menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen transaksi di Indonesia dilakukan secara tunai. Oleh karena itu, perusahaan teknologi unicorn seperti Tokopedia menjadi pelopor dalam mempromosikan belanja daring.
Menurut para ahli, toko kelontong masih memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sistem supermarket dan e-commerce, terutama di Asia. Toko kelontong ramah, dekat dengan rumah, dan praktis.
Tokopedia, Warung Pintar di Indonesia, StoreKing di India, dan Alibaba dengan LST semuanya telah berjabat tangan dengan pengecer tradisional.
Potensi VinShop
Kesuksesan Tokopedia di Indonesia menginspirasi One Mount Group untuk mengembangkan platform VinShop-nya.
Setahun setelah peluncurannya, VinShop telah menghubungkan lebih dari 100,000 toko kelontong tradisional. Namun, angka ini masih kecil jika dibandingkan dengan potensi pasar.
Menurut Nielsen, Vietnam memiliki 1.4 juta toko kelontong yang beroperasi. Kantar Worldpanel, perusahaan konsultan dan riset pasar terkemuka di dunia, mengatakan bahwa saluran ritel tradisional, termasuk pasar dan toko kelontong, masih memenuhi 85 persen permintaan konsumen. Keunggulan model bisnis toko kelontong adalah kenyamanan, tepat di gang kecil, layanan yang baik, mudah untuk bepergian, dan biaya rendah.
VinShop telah membantu 10,000 pedagang grosir Vietnam menjadi pebisnis sejati dengan menggunakan teknologi dan solusi keuangan dari platform digital ini. Data dari VinShop menunjukkan bahwa platform tersebut telah mencakup hingga 80 persen pasar inti di Hanoi dan Kota Ho Chi Minh.
Beberapa pelaku usaha kecil mengaku bisa meraup untung besar berkat keunggulan VinShop, seperti banyaknya produk dari pemasok sendiri, harga yang transparan, lebih dari 100 promosi setiap bulan, dan program loyalitas VinShop.